Setelah Berjanji Menikahi Dia, Saya Merasa Tekanan Makin Bertambah

blog edukasi cinta - curhat cinta online - kisah cinta sejati
Bagaimana kabarmu hari ini? Evaluasi apa yang sudah kamu kerjakan dari pagi hingga sore ini. Semoga besok pagi akan lebih baik dan hari ini lebih baik dari kemarin. Selamat malam kawan.

Saya cowok berusia 23 tahun dan merasa tekanan semakin bertambah setelah berjanji serius dengan dia. Saya berjanji menikahi dia. Tapi saya tidak percaya diri atas potensi diri dan takut dengan perubahan pada kondisi saat ini.


Saya takut dengan kondisiku sekarang yang masih berstatus pekerja kontrak. Yang saya pikirkan, apakah cukup dengan penghasilan saya sekarang bisa menafkahi dia setelah menikah?

Hal ini yang sering membuatku down. Saya ingin lebih percaya diri, tapi bingung harus mulai dari mana dan bagaimana caranya. Apa yang harus saya lakukan? Tolong saran dan bantuannya, terima kasih.

Baca juga: Yakin Kamu Sudah Siap Menikah? Jawab Dulu 17 Pertanyaan Pranikah Ini

Jawaban curhat setelah berjanji menikahi dia, saya merasa tekanan makin bertambah

Setelah Berjanji Menikahi Dia, Saya Merasa Tekanan Makin Bertambah

Kami sangat apresiasi keterbukaanmu atas apa yang kamu rasakan. Kami mencoba memahami ada perasaan takut, cemas, dan tidak nyaman yang kamu rasakan atas perasaan bingung mengenai potensi dirimu sendiri.

Dapatkan materi cinta 'premium' tanpa syarat. Isinya dari tingkatkan kualitas cintamu lewat self love - self confidence, keintiman obrolan, ciptakan ekspektasi realistis hubungan, hingga materi pranikah untuk menyamakan persepsi kamu dan dia tentang pernikahan, Segera ambil materi ini

Hal ini membuatmu jadi tidak percaya diri. Ada semacam ketakutanmu bisa tidak menafkahi dia setelah menikah nantinya, juga perubahan kondisi yang terjadi pada saat ini ke depannya.

Yang perlu kamu pahami, rasa percaya diri terbentuk dari keyakinan diri mengenai kelebihanmu dan apa yang menjadi tujuan hidupmu. Rasa percaya diri itu efek dari perasaan, keyakinan, dan pengetahuan kamu terhadap citra dirimu sendiri.


Gampangnya, kamu berfokus konsep diri positif terhadap dirimu sendiri. Kamu sudah memiliki keyakinan yang kuat atas dirimu. Kamu merasa dengan pengetahuan yang dimilikimu. Kamu cenderung positif atas kemampuan dan keyakinanmu.

Jika kamu hanya berfokus konsep diri negatif terhadap dirimu sendiri. Kamu berkeyakinan yang lemah atas dirimu. Kamu merasa kurangnya pengetahuan yang dimilikimu. Kamu cenderung negatif atas kemampuan dan keyakinanmu.

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri harus dari dirimu sendiri yang memulainya. Hanya kamu yang dapat mengatasi apa saja kekurangan dan kelebihanmu. Cara untuk memiliki penilaian positif atas kemampuan dan keyakinanmu.

Baca juga: 5 Upaya Mempersiapkan Pernikahan yang Sehat, Langgeng, dan Bahagia

Kamu bisa berikan sugesti positif pada dirimu sendiri. Lalu, pastikan sugesti positif itu kamu praktekkan dalam kehidupanmu. Contohnya, evaluasi diri, minta feedback dari orang-orang di sekitarmu, dan jangan lupa cintai diri sendiri itu prinsip dasar untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

Sugesti positif untuk membuatmu menerima semua yang ada pada dirimu. Kamu akan menyadari setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kamu tinggal memanfaatkan apa saja kelebihanmu untuk meraih apa yang jadi tujuan hidupmu.

Oh ya, lingkungan pergaulan memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kepribadianmu. Gampangnya, kamu berada di lingkungan pergaulan yang memiliki rasa percaya tinggi.

Kamu akan memiliki pandangan yang positif dan optimis dalam menjalani hidup. Ya, kamu ada kecenderungan untuk meniru perilaku itu. Kamu jadi termotivasi untuk menampilkan sisi terbaik dirimu.

Kalau kamu itu sebenarnya mampu. Apa buktinya? Bila kamu tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan perasaan positif tidak akan mungkin kamu mau berjanji menikahi dia, bukan?

Yang perlu kamu pahami, kamu tidak dapat mengontrol apa yang terjadi. Tapi tantang dirimu untuk bisa mengontrol apa yang bisa kamu respon atas apa yang terjadi. Tidak perlu habiskan energimu untuk hal-hal di luar kendalimu.

Baca juga: Menikah Nggak Cukup Cuma Modal Cinta Saja

Setelah berjanji menikahi dia, jangan lupa kamu bicarakan isu keuangan dengan dia secara jujur dan terbuka atas kondisimu

Setelah Berjanji Menikahi Dia, Saya Merasa Tekanan Makin Bertambah

Tujuan kamu dan dia membicarakan isu keuangan sebelum menikah untuk mengetahui cara pandangan satu sama lain. Gampangnya, seperti apa tipe kepribadian kamu dan dia dalam memperlakukan uang.

Kepribadian finansial kalian akan mencerminkan sikap dan memengaruhi perilaku finansial hubungan ke depan. Bagaimana kamu dan dia memandang urusan uang dalam jangka pendek, menengah, dan panjang?

Bagaimana kamu dan dia bersikap ketika menghadapi situasi atau keadaan darurat seperti saat ini? Apakah kamu dan dia itu tipe penabung, penganggaran, ataukah pemboros?

Apakah kamu atau dia punya utang yang harus dibayar? Apakah tujuan finansial kamu itu sama ataukah berbeda dengan dia? Apakah setelah menikah akan ada pembagian rekening atau tidak?

Dari mana sumber penghasilan kamu dan dia itu berasal? Bagaimana kamu dan dia mengelola sumber penghasilan itu? Apakah kamu atau dia punya pengetahuan tentang investasi? Apa rencana kamu apabila dari salah satu pasangan tidak bekerja atau kehilangan pekerjaan?

Membicarakan isu keuangan sebelum menikah bukan berarti kamu orangnya materialistis atau tidak sopan. Karena masalah ekonomi dalam rumah tangga menjadi penyebab nomor satu perceraian.

Curhat setelah berjanji menikahi dia yang diposting sudah dapat izin/persetujuan untuk dijadikan contoh kasus. Agar siapa pun yang mengalami masalah serupa bisa belajar dari kisahnya.

Suka dengan postingan seperti ini? Pastikan kamu subscribe agar tidak ketinggalan update Melek Cinta 5K’s RelationshipTerima kasih kamu yang sudah membaca sampai selesai. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentarmu apabila masih ada kurang dimengerti. Ingin curhat? Kamu menginginkan solusi lebih profesional dari konselor, silakan ke menu layanan curhat ya.

Follow instagram @ruang cinta yang bahas masalah relationship yang remeh-temeh, serius, hingga sensitif. Ini termasuk isu-isu tabu relationship yang dibahas secara ringan.



Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *