Di balik wajah tegar dan senyum seorang pria, ada luka batin yang tersembunyi amat dalam. Stigma “Pria harus kuat” seperti ungkapan “Boys don’t cry” atau “Pria tidak bercerita” menuntut seorang pria untuk selalu kuat secara fisik maupun emosional juga melindungi dan memimpin.
Isi Artikel
Disclaimer: Artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika kamu merasakan gejala depresi dengan kecenderungan bunuh diri, segera konsultasikan persoalanmu ke psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan mental terdekat.
Stigma Pria Harus Kuat “Boys don’t cry”

Jika pria melakukan sesuatu di luar ekspektasi “Pria harus kuat” itu, maka pria dianggap lemah atau tidak jantan. Efek dari maskulinitas kaku dapat membunuh pria secara perlahan.
Stigma ini bikin pria tidak mau berbagi cerita tentang masalah pribadinya karena takut dianggap lemah atau tidak jantan.
“Aku lebih baik mendapati temanku menangis di pundakku daripada harus menghadiri pemakamannya minggu depan!”
Kalimat itu diucapkan Paddy ‘The Baddy’ Pimblett, bintang baru Ultimate Fighting Championships (UFC) usai mengalahkan Jordan Leavitt. Dalam pidato emosionalnya pascapertarungan mendedikasikan kemenangan itu untuk Ricky, sahabatnya telah bunuh diri.
Pertarungan Paddy Pimblett di UFC London bukan hanya soal otot, tapi juga soal hati. Ia menyerukan untuk semua pria lebih terbuka tentang perasaannya.
“Ada stigma di dunia ini, bahwa pria tidak bisa bicara. Dengar, jika Anda seorang pria dan Anda memiliki beban di pundak Anda, dan Anda pikir satu-satunya cara Anda bisa menyelesaikannya adalah dengan bunuh diri, tolong bicara dengan seseorang, bicaralah dengan siapa pun,” ujar Paddy Pimblett.
Seruan Paddy Pimblett itu menggema di UFC London yang menekankan ada beban berat yang dipikul oleh pria, tapi tak pernah benar-benar dibicarakan.
Stigma “Pria harus kuat”, maka pria tidak bercerita. Banyak pria memilih diam karena takut. Ia diam karena terbiasa, dan diam karena diajarkan tangisan bukan milik pria.
Budaya “Pria harus kuat” telah menjerat banyak pria dalam kesunyian yang mematikan.
Baca juga: 4 Cara Hadapi Pria Mansplaining, Gak Minta Dijelasin, Bang!
Sunyi yang Dipelihara Sejak Kecil (Luka Batin Pria)

Sejak kecil banyak pria tumbuh dengan pesan-pesan semacam ini. “Jangan menangis!” “Pria harus kuat!”, atau “Jangan cengeng!”
Tanpa disadari, pesan itu menanamkan keyakinan pria merasa sedih, lemah, atau hancur adalah kesalahan (kelemahan). Sejak kecil pria diajarkan harus dapat menekan rasa, menelan kecewa, dan menyimpan rapat-rapat segala luka batinnya.
Pria sejati tidak boleh mengeluh, dan tidak boleh tampak rapuh. Ia harus selalu kelihatan ‘siap tempur’, tapi emosinya harus dipendam dan tidak boleh diberi ruang untuk keluar (tidak boleh tunjukkan emosi).
Yang efeknya pria rentan mengalami luka batin yang terus membusuk, hingga pada titik tertentu luka batin itu bisa membunuh.
Viral Pria Tidak Bercerita Tren Berbahaya Mematikan

Ironisnya media sosial seharusnya jadi ruang untuk berbagi kesadaran kesehatan mental justru semakin menguatkan narasi toxic masculinity. Video viral di TikTok dan Instagram dengan tagline “Laki-laki tidak bercerita” menjadi populer.
Banyak video viral dengan latar musik sendu menampilkan visual pria sedang duduk melamun dan menatap kosong. Konten dengan tagline “Pria tidak bercerita” ingin mengatakan sedih itu wajar, tapi cukup disimpan sendiri.
Ironisnya konten video itu tidak sedikit yang memujinya, bahkan ada menganggap itu keren dan maskulin. Video bertagline “Pria tidak bercerita” mengajak pria untuk bangga dalam diam.
Video itu bukan cuma konten, tapi penegas sigma maskulinitas patriarkal. Bahwa pria harus kuat dan tidak boleh menunjukkan emosi (kelemahan). Bahwa pria sejati tidak berbicara tentang perasaan atau masalahnya.
Konten video bertagline “Pria tidak bercerita” ingin normalisasi penderitaan harus dipendam sendiri. Bahwa pria sejati sejati tidak boleh mengeluh.
Yang artinya pria membuka cerita (masalahnya) sama saja itu membuka aib. Bahwa kesedihan pria tidak butuh ruang untuk bercerita masalahnya.
Stigma pria sejati membuat banyak pria tidak pernah minta tolong, bahkan ketika hidupnya berada di ambang kehancuran. Di balik tren viral “Pria tidak bercerita”, ada fakta yang menyakitkan angka bunuh diri pria meningkat.
Menurut data Into The Light Indonesia, sepanjang 2024 tercatat 826 kasus bunuh diri dan mayoritas adalah pria. Sedangkan 2025, satu bulan terakhir, kasus demi kasus pria bunuh diri bermunculan di media.
- Seorang pria ditemukan tewas di pinggir sungai Cikaniki di Nanggung, Bogor dengan luka bakar dan meninggalkan surat perpisahan untuk istrinya.
- Pria pengendara motor di Purbalingga sengaja diam di tengah rel agar ditabrak kereta api karena stres dilarang temui anaknya.
- Pria melompat dari lantai 18 apartemen Di BSD, Tangerang Selatan karena terjerat pinjaman online (pinjol).
- Seorang pria tanpa identitas di saku memutuskan terjun bebas dari ketinggian di mal di Jakarta Barat.
- Pria nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri dan aksinya disiarkan secara langsung di akun media sosial di Pontianak, Kalimantan Barat.
- Pria tewas gantung diri di Cilincing, Jakarta Utara karena frustrasi akibat judi online (judol).
- Seorang pria ditemukan tewas gantung diri di Konawe, Sulawesi Tenggara karena depresi masalah rumah tangga.
Para pria ini menyimpan sesuatu yang terlalu berat. Mereka tidak sempat bercerita dan memilih sunyi, hingga akhirnya mereka tidak sanggup lagi bertahan dan sunyi itu membunuh.
Baca juga: Luna Maya Menikah, Pria Misoginis Berkomentar Seksisme
Sigma Toxic Masculinity yang Menjerat

Mengapa pria sulit bercerita? “Pria tidak bercerita”, kalimat tersebut terdengar seperti simbol ketegaran. Namun, di balik itu ada sigma maskulinitas patriarkal yang menjerat.
Banyak pria tumbuh dalam budaya yang mengedepankan atau mengagungkan harga diri dan kekuatan, tapi tidak memberikan ruang untuk mengenali emosi.
“Menangis itu lemah”, atau “Curhat itu cengeng”
Stigma maskulinitas patriarkal itu terus dibawa hingga pria dewasa. Sejak kecil pria dipaksa untuk tangguh. Bahwa pria tidak boleh menangis dan mengeluh.
Seiring bertambahnya usia, pria tumbuh jadi tidak tahu caranya untuk mengekspresikan emosinya. Pria jadi belajar menutup rapat-rapat setiap rasa sakitnya.
Menurut American Psychological Association (APA), bahwa pria yang menganut maskulinitas tradisional lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental, tapi paling enggan mencari bantuan untuk emosinya.
Hal ini senada oleh Raewyn Connell, seorang sosiolog yang menyebutkan hegemonic masculinity atau maskulinitas hegemonik. Gambaran ideal pria harus selalu kuat, dominan, dan tahan banting.
Efek dari standar ideal pria yang dikonstruksi oleh masyarakat (pria harus kuat, tidak menangis, dan tidak boleh lemah). Banyak pria merasa terjebak, takut, dan sendirian. Standar ideal itu tidak hanya menyiksa pria, tapi juga membunuh pria secara pelan-pelan.
Baca juga: Pria Toxic Masculinity Bikin Wanita Stres Setelah Menikah
Ketika Pria Sejati Berani Bercerita (Tak Lagi Kaku)

Bagas bukan nama sebenarnya, tapi kisahnya bisa dijadikan pembelajaran secara nyata untuk para pria. Bagas tahu betul bagaimana rasanya jatuh. Ia bercerita saat keluarganya hancur karena perpisahan orang tuanya.
Bagas merasa dunianya ikut runtuh. Ia tumbuh tanpa kehadiran orang tua, Bagas jadi suka menyimpan semuanya sendiri, dan akhirnya ia ambruk tidak lagi sanggup bertahan.
Hingga suatu hari, Bagas disarankan oleh sahabatnya untuk berkonsultasi ke psikolog. Diagnosa yang diberikan cukup kompleks, Bagas menderita depresi, kecemasan, dan gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder).
Bagas pun mengikuti saran psikolog untuk berkonsultasi ke psikiater. Singkat cerita, Bagas untuk pertama kalinya mulai ‘berani bercerita’ ke orang-orang terdekat, selain sahabatnya.
Bagas merasa ini menjadi titik baliknya, ia menemukan kelegaan dalam hidupnya. Bagas merasa ini bukan akhir dari masalah, tapi awal dari pemulihan dirinya.
Yang dilakukan oleh Bagas lagi membangun maskulinitas diri yang sehat. Bagas berani melepas dari maskulinitas tradisional dan toksik karena ia tidak mau terjebak pada dua maskulinitas itu.
Bagas adalah contoh pria sejati yang lagi membangun maskulinitas positif yang mengajarkan pria tidak harus selalu kuat. Ia boleh lemah, boleh menangis, dan boleh minta tolong.
Ini bukan tanda kelemahan atau kegagalan, tapi bentuk keberanian pria sejati. Pria kuat bukan hanya soal kekuatan fisik saja, tapi juga keberanian untuk jujur, rapuh, dan saling mendukung.
Bagas menyadari menangis itu bukan membuka aib dan meminta bantuan bukanlah kekalahan. Bagas bercerita bukanlah kelemahan diri, tapi bentuk kekuatan diri yang sesungguhnya.
Baca juga: Pola Asuh Ibu yang Demokratis, Superman Jadi Pria Penuh Cinta
Kesimpulan Pria Tidak Bercerita

Kamu menjadi pria bukan berarti harus selalu kuat sendirian. Bukan berarti juga kamu harus menelan semuanya sendiri. Kamu tidak diciptakan oleh Tuhan untuk kuat sepanjang waktu karena pria juga manusia biasa.
Di dunia yang terus menuntut kamu untuk “baik-baik saja”, maka keberanian untuk mengakui kamu “tidak baik-baik saja” itu justru langkah paling jantan.
Kamu bercerita bukanlah kelemahan, tapi bentuk tertinggi dari keberanian. Terkadang satu kalimat sederhana, “Aku tidak baik-baik saja!” bisa menyelamatkan hidupmu.
Pria sejati tidak perlu menunggu ambruk untuk bicara. Ia tidak perlu menunggu kehilangan untuk peduli.
Setiap cerita yang dibagikan, ada beban yang berkurang. Setiap tangis yang jujur, ada hati yang mulai sembuh. Setiap pelukan yang tulus, ada nyawa yang terselamatkan.
Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami tanda-tanda depresi atau memiliki kecenderungan bunuh diri. Jangan ragu untuk mencari bantuan.
- Kemenkes RI (119 ext 8)
- BISA Helpline WhatsApp 0811-3855-472
- Psikolog atau psikiater di Puskesmas dan rumah sakit terdekat
Kamu tidak sendiri. Kamu tidak harus memikul semuanya sendiri karena pria juga manusia dan kamu berhak untuk bercerita.
Terima kasih sudah membaca postingan ini, kalau kamu suka postingan pria tidak bercerita ini bermanfaat. Silakan share di media sosialmu agar lebih banyak lagi teman-temanmu yang memahami topik ini.
Yang ingin curhat masalah cinta dan menginginkan solusi profesional tanpa menghakimi. Melek cinta punya teman curhat bareng psikolog klinis untuk mendengarkan masalah kamu. Curhat bukan bersifat konseling ya, curhat cinta online
Belajar bareng masalah keintiman dan gairah dalam hubungan cinta. Pantau terus channel Youtube Youtube @Melek Cinta, Instagram @Ruang Cinta, dan Facebook @Melek Romansa berisi konten dipersonalisasi hanya untuk kamu.
Setelah kamu baca pria tidak bercerita, apakah kamu punya komentar? Jika kamu punya pengalaman yang serupa bisa berbagi ceritamu di kolom komentar. Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat teman-teman yang lain. Kita juga bisa belajar dari pengalaman kamu.







