Masih ingat Anggi Anggraeni pengantin baru asal Bogor yang kabur sehari setelah akad nikah? Anggi memilih pergi dari suami menemui mantan pacarnya. Kenapa sulit move on dari mantan, meski sudah menikah? Simak ya!
Isi Artikel
Kasus Anggi Anggraeni Contoh Cinta yang Tertinggal
Nama Anggi Anggraeni yang dulu pernah viral di media sosial. Pengantin baru asal Bogor ini kabur dari suaminya Fahmi Husaeni menemui mantan pacarnya, Adriaman Lase.
Anggi Anggraeni memilih untuk kembali ke masa lalu yang belum selesai. Meski sudah menikah, Anggi belum bisa move on. Ia masih berada pada titik itu tidak bisa melepaskan cinta yang telah pergi.
Banyak dari kamu pasti bertanya. Bukankah pernikahan adalah komitmen tertinggi antara dua insan? Mengapa Anggi yang telah memulai hidup baru justru menoleh ke belakang?
Kasus Anggi Anggraeni, pengantin yang kabur ke pelukan mantan sehari setelah akad nikah. Kamu jadi belajar cinta tidak selalu berakhir dengan logika. Putus cinta bukan hanya soal kehilangan seseorang, tapi juga kehilangan harapan, kenangan, dan versi diri yang pernah percaya pada cinta.
Saya ajak kamu berhenti sejenak dulu. Alih-alih menghakimi, ada baiknya kita bertanya. Kenapa sulit move on dari mantan? Kenapa begitu sulit melepaskan masa lalu? Artikel ini mengupas alasan psikologis dan emosional di balik susahnya melupakan mantan.
Baca juga: Anggi Anggraeni Contoh Nyata Cewek Belum Selesai Masa Lalunya
Anggi Anggraeni, Kenapa Sulit Move On dari Mantan? Ini Alasan Psikologis

Putus cinta atau perpisahan bukan sekadar kehilangan pasangan. Ia bisa terasa seperti kehilangan bagian dari dirinya. Bayang-bayang mantan masih setia menghantui, meski sudah ada pasangan di sisinya.
Ada orang yang tampak baik-baik saja di luar, tapi dalam dirinya menyimpan rasa hampa dan kehilangan yang mendalam. Jawabannya ternyata lebih dalam dari sekadar ‘masih cinta’.
Kenapa sulit move on dari mantan? Berikut ada 6 alasan psikologis yang menjelaskan banyak orang terjebak di masa lalu.
1. Insecure dan Luka yang Belum Sembuh
Hilangnya rasa aman yang dulu pernah diciptakan bersama mantan. Kehilangan itu membuat kamu merasa tidak mampu berdiri sendiri. Contohnya munculnya rasa cemas, takut, bahkan kehilangan arah.
Kamu yang ditinggalkan, seperti kehilangan kendali atas duniamu. Kamu mulai mempertanyakan segalanya. Mulai dari diri sendiri, masa depan, hingga makna cinta itu sendiri.
Kamu jadi takut mencintai lagi karena khawatir akan kehilangan lagi. Yang akhirnya kamu lebih memilih tinggal di masa lalu karena tempat itu kamu pernah merasa ‘cukup’ (rasa dicintai dan mencintai).
2. Merasa Mantan Adalah “The One”
Kamu merasa mantan adalah “versi terbaik” yang pernah ada. Kamu jadi berpikir tidak ada lagi orang yang bisa mencintai kamu sebaik mantan. Kamu menganggap tidak akan menemukan cinta seindah yang mantan lakukan.
Ini ilusi umum dari putus cinta dalam hubungan yang gagal. Ketika hubungan berakhir, kamu merasa duniamu runtuh. Bukan karena kamu tidak bisa hidup tanpa dirinya, tapi karena kamu takut tidak akan pernah merasakan cinta yang seindah itu lagi.
Kamu meyakini telah menemukan “sosok yang terbaik” untuk dirimu. Keyakinan itu membuat kamu mengidealisasi masa lalu. Yang sesungguhnya kamu tidak benar-benar rindu sama mantan, tapi merindukan versi mantan saat masih mencintai dan dicintai.
3. Ketakutan Akan Rasa Kesepian
Kesepian adalah ketakutan yang manusiawi. Namun, ada sebagian orang lebih baik berada dalam hubungan tidak sehat daripada harus menghadapi hari-hari sendiri. Meski hubungan itu menyakitkan, tapi kehadiran pacar betapa pun toksik orangnya tetap terasa lebih baik daripada kekosongan (kesendirian).
Alasan ini membuat kamu susah move on. Ini bukan hanya sekadar kehilangan pasangan, tapi kamu merasa kehilangan teman tidur, teman cerita, atau teman hidup. Meski itu semua hanyalah ilusi kenyamanan.
Rasa takut ini membuat banyak orang bertahan pada kenangan bukan karena masih cinta, tapi karena tidak ingin sendiri. Dengan kata lain, takut kesepian.
Baca juga: Istri Kabur Bareng Mantan, Suami Bisa Ajukan Pembatalan Nikah
4. Ketergantungan Emosional Terlalu Dalam

Ketika kamu menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaanmu. Kamu terlalu menggantungkan nilai-nilai diri pada satu orang saja (pasangan).
Saat kamu kehilangan pasangan karena putus cinta itu berarti kehilangan jati diri. Maka kamu jadi lupa, bahwa dirimu itu layak dicintai tanpa validasi dari siapa pun. Kamu lupa cara untuk merasa cukup hanya dengan diri sendiri.
Kok bisa?
Kamu melihat mantan sebagai cermin yang memantulkan harga dirimu. Saat hubunganmu berakhir, maka cermin itu pecah. Yang tersisa hanyalah keraguan pada diri sendiri.
Munculnya suara-suara negarif di kepala, “Aku nggak cukup baik.” atau “Siapa yang mau sama aku lagi?”
Yang akhirnya kamu jadi suka menyalahkan diri sendiri. Kamu merasa tidak cukup baik dan tidak layak dicintai. Padahal cinta bukan soal layak atau tidak. Kadang ada cinta yang memang tidak bisa dipaksakan untuk bertahan.
5. Trauma Kegagalan (Takut Gagal Lagi)
Kamu berpikir dengan memberikan segalanya untuk pacar, maka semuanya akan berjalan sempurna sesuai yang kamu inginkan. Saat hubungan itu gagal, maka kamu jadi sulit menerima kenyataan.
Kamu pun jadi bertanya-tanya.
“Apa salahku?” atau “Harusnya aku bisa lebih baik”
Lalu perasaan itu menumpuk menjadi penyesalan.
“Andai waktu itu aku nggak begini…”, atau “Seharusnya aku lebih mengerti dia…”.
Kamu jadi tidak sadar cinta itu bukan soal sempurna, tapi soal saling memahami, lalu saling mengerti.
Alih-alih belajar dan bangkit, kamu malah terjebak dalam lingkaran penyesalan. Ingat, tidak semua bisa diperbaiki, termasuk cinta yang sudah tidak saling menguatkan lagi.
6. Masih Terus Mengintip Kehidupan Mantan
Ada satu perilaku yang membuat proses move on jadi semakin sulit. Kelakuan kamu masih saja suka mengintip mantan lewat media sosial. Sekali stalking, kamu bisa terjerat lagi dalam kenangan yang tidak penting untuk hidupmu.
Kamu bisa saja tidak lagi berbicara atau bertemu lagi sama mantan, tapi kamu diam-diam suka melihat stories, unggahan, hingga gerak-gerik hidupnya lewat postingan di media sosialnya.
Yang efeknya saat kamu lihat mantan bahagia, kamu pun terluka. Saat kamu lihat mantan sedih, kamu pun jadi berharap. Begitu terus sampai kamu lelah sendiri.
Ini bukan cinta, tapi rasa candu yang perlahan bisa menggerogoti kewarasanmu. Setiap kali kamu melihat mantan tersenyum di media sosial, maka yang luka adalah hati kamu sendiri.
Baca juga: 3 Alasan Menikah Bukan Solusi Masalah Hidupmu
Ini Bukan Soal Mantan, Tapi Soal Luka Batin dari Diri Sendiri

Kasus Anggi Anggraeni menyadarkan luka batin bisa lebih rumit dari yang terlihat. Keputusan Anggi yang pilih kabur dari suaminya adalah hasil dari kisah cinta yang belum selesai, atau perasaan yang tidak pernah benar-benar dia sembuhkan.
Tapi kamu bisa belajar satu hal di balik kisah Anggi pengantin yang kabur. Terkadang bukan mantan yang terlalu istimewa, tapi kamu yang belum cukup pulih dari luka batin.
Move on bukan soal melupakan mantan pacar, tapi soal memaafkan diri sendiri dan melepaskan ekspektasi. Lalu, percaya rasa bahagia itu bisa ditemukan lagi bukan di masa lalu, tapi masa depan yang belum dijalani.
Belajar Melepaskan, Belajar Mengikhlaskan
Belajar dari kasus Anggi Anggraeni, pengantin yang kabur dari suami menemui mantannya. Bahwa cinta tidak selalu berjalan seperti yang kamu harapkan.
Tapi perlu diingat, cinta bukan tentang siapa yang paling dulu hadir, tapi siapa yang bertahan dan berjuang bersama sampai akhir.
Melepaskan mantan memang sulit. Tapi jauh lebih sulit kalau kamu terus bertahan pada sesuatu yang tidak lagi memberikan kebahagiaan. Setiap orang punya masanya, termasuk mantan.
Begitu juga cinta. Ada yang datang untuk tinggal, dan ada yang hanya datang untuk mengajarkan agar kamu introspeksi diri dan fokus pada masa depan.
Mungkin hari ini kamu masih menangis karena kehilangan mantan. Tapi yakinlah, waktu akan menyembuhkan. Asal kamu mengizinkan dirimu untuk benar-benar melepaskannya.
Kadang hal paling berani dalam cinta bukan bertahan, tapi berani untuk pergi dari sesuatu yang tidak dapat merusakmu.
Jika kamu sedang berjuang untuk move on. Izinkan dirimu merasa sedih, tapi jangan tinggal di sana selamanya. Masa depanmu terlalu berharga untuk terus terikat pada masa lalu.
Baca juga: Tanda Kamu Gagal Move On Masih Sering Curhat Sama Mantan
Kenapa Sulit Move On dari Mantan? Kesimpulannya

Cinta sejati bukan soal bertahan pada seseorang yang telah pergi meninggalkanmu (terjebak pada masa lalu), tapi belajar mencintai diri sendiri yang tetap tinggal.
Jika kamu masih sulit move on, maka tanyakan ini pada dirimu.
“Apa yang sebenarnya aku cari? Orangnya ataukah rasa yang dulu pernah aku punya?“
Mungkin jawaban itu akan membawamu pada penyembuhan. Ingat ya, ini bukan untuk kembali ke pelukan mantan, tapi untuk bertumbuh.
Jangan hanya belajar melepaskan mantan, tapi belajarlah untuk pulih dari mantan. Belajarlah menjadi versi dirimu yang tidak lagi bergantung pada mantan untuk merasa utuh.
Terima kasih sudah membaca postingan ini, kalau kamu suka postingan kenapa sulit move on dari mantan ini bermanfaat. Silakan share di media sosialmu agar lebih banyak lagi teman-temanmu yang memahami topik ini.
Yang ingin curhat masalah cinta dan menginginkan solusi profesional tanpa menghakimi. Melek cinta punya teman curhat bareng psikolog klinis untuk mendengarkan masalah kamu. Curhat bukan bersifat konseling ya, curhat cinta online
Belajar bareng masalah keintiman dan gairah dalam hubungan cinta. Pantau terus channel Youtube Youtube @Melek Cinta, Instagram @Ruang Cinta, dan Facebook @Melek Romansa berisi konten dipersonalisasi hanya untuk kamu.
Setelah kamu baca kenapa sulit move on dari mantan, apakah kamu punya komentar? Jika kamu punya pengalaman yang serupa bisa berbagi ceritamu di kolom komentar. Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat teman-teman yang lain. Kita juga bisa belajar dari pengalaman kamu.







