Ingin Hubunganmu Bahagia dan Langgeng dengan Belajar dari Cinta

blog edukasi cinta - curhat cinta online
Bagaimana malammu hari ini? Yuk, evaluasi apa yang sudah kamu kerjakan tadi pagi hingga sore ini. Semoga besok pagi lebih baik dan hari ini lebih baik dari kemarin. Selamat malam sobat.

Kalau kamu ingin hubunganmu bahagia dan langgeng, maka kamu harus belajar cinta. Loh, kok belajar cinta kan cinta itu alami. Ngalir begitu saja. Realitanya kamu gak malas belajar cinta. Kamu bingung harus ngomong apa waktu PDKT sama lawan jenis, kamu kaget dia tiba-tiba berubah.


Kamu bingung apa yang harus dilakukan saat hubunganmu ada masalah, kamu ngambek dengan mendiamkan dia selama berminggu-minggu, jalani hubungan putus nyambung, atau kamu jadi orang yang tipe people plesure dalam hubunganmu.

Jika kamu ingin hubunganmu bahagia dan langgeng, pertanyaannya sudahkah kalian ada kesetaraan hubungannya?

Untuk mengetahui kamu dan dia sedang berproses menuju kesetaraan dalam hubungan kalian. Jawablah 13 pertanyaan hubungan di bawah.

  1. Apakah kamu sudah menjadi lebih dari sekadar teman bagi dia?
  2. Seberapa jauh kamu dapat berpikir hati-hati sebelum membuat keputusan?
  3. Apakah kamu bisa berpikiran terbuka dalam memandang suatu masalah gak hanya dari sudut pandangmu saja?
  4. Bisakah kamu menerima kritik dari dia?
  5. Apakah kamu masih memaksakan kehendakmu sendiri dalam hubunganmu?
  6. Seberapa jauh kamu memiliki kekuatan pengambilan keputusan dalam hubunganmu?
  7. Seberapa jauh kamu dapat memperlakukan dia penuh dengan rasa hormat?
  8. Apakah kamu sudah menjadi mitra yang setara bagi dia dalam hubungan kalian?
  9. Seberapa jauh dia bisa mendukung perkembangan kualitas dirimu di masa depan?
  10. Apakah kamu dapat menjadi sederajat dalam hubunganmu?
  11. Seberapa jauh kamu mau belajar bertumbuh untuk mengembangkan potensi dirimu di masa depan?
  12. Seberapa kuat kamu dapat memperdayakan diri secara mandiri dalam memenuhi kebutuhanmu?
  13. Seberapa jauh kamu/dia bergantung sama pasangan secara finansial?

Beberapa pertanyaan di atas, kamu bisa menilai sendiri seperti apa kemampuan dan kekuatanmu dalam mengembangkan dirimu sendiri, juga hubunganmu ke depan.

Baca juga:

Satu-satunya cara ingin hubunganmu bahagia dan langgeng. Belajarlah ilmu bertumbuh/ilmu pengembangan diri itu bagian dari belajar cinta. Kamu akan sadar hubungan cinta itu milik dua orang bukan satu orang saja

Ingin Hubunganmu Bahagia dan Langgeng dengan Belajar dari Cinta
Ingin hubunganmu bahagia dan langgeng (image: pixabay.com)

Kamu sadar hubungan cinta dimiliki oleh dua orang bukan satu orang saja. Rasa cinta dan sayang saja tidak cukup untuk membangun hubungan yang bahagia dan langgeng. Perlu kesiapan mental, sikap dewasa, komunikasi, dan finasial yang stabil.

Utamanya kamu yang menginginkan hubungan jangka panjang tidak hanya berpacaran saja. Rasa cinta dan sayang yang menggebu-gebu dapat membuat kamu jadi buta akan realita kehidupan hubunganmu. Bahasa gaulnya anak zaman now, “bucin”

Hubungan cinta yang bahagia dan langgeng dibutuhkan komunikasi antarpasangan tidak peduli seberapa lama kalian sudah bersama. Fokus utama komunikasi hubungan untuk mendengarkan keluhan pasangan. Bila kalian tidak mampu berkomunikasi secara baik dan sehat.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin beban pikiran yang dimiliki oleh pasangan bisa berkurang? Tidak ada komunikasi yang terjadi dalam hubungan kalian. Banyak kasus yang sering dijumpai pasangan akan lebih bercerita masalahnya ke orang lain. Inilah pemicu hubungan jadi tidak harmonis. Contohnya, perselingkuhan dan perceraian.

Yang perlu kamu perhatikan untuk memiliki hubungan yang bahagia dan langgeng. Kamu mampu mendukung impian dia secara nyata. Dukung dia untuk mengembangkan potensi dirinya agar bisa sukses di masa depan.


Saat kamu marah atau kecewa sama dia. Jangan mengacaukan situasi yang sudah buruk dengan marah-marah atau memakinya, terutama di muka umum. Tunggu sampai kamu benar-benar tenang baru berbicara apa yang membuatmu marah atau kecewa.

Jangan lupakan kamu bisa menghargai usaha dia. Tidak semuanya kamu tahu seperti apa perjuangan dia untuk menyenangkan dan membahagiakanmu. Kalau kamu hanya melihat kebahagiaan dari sudut pandangmu saja.

Kamu akan merasa tidak bangga atas usaha yang telah dia lakukan untuk membahagiakanmu. Setelah putus dari dia baru muncul rasa penyesalanmu. Dulu kamu suka tidak menghargai/menyia-nyiakan dia.

Kamu memuji dia lewat kalimat pujian yang sederhana itu cara paling gampang untuk menghargai perjuangan pasangan yang telah berusaha membahagiakan dan menyenangkan kamu.

Baca juga

Ingin hubunganmu bahagia dan langgeng sebelum putuskan menikah sama dia. Cek lagi apa kalian punya tujuan pernikahan yang sama daripada kamu menyesal setelah menikah sama dia

Ingin Hubunganmu Bahagia dan Langgeng dengan Belajar dari Cinta
Ingin hubunganmu bahagia dan langgeng (image: pixabay.com)

Perlu kamu pahami realita hubungan, kebahagiaan itu harus kalian yang menciptakannya. Pernikahan yang bahagia dan langgeng tidak hanya butuh kesempurnaan cinta dan fisik saja, tapi juga aspek kesiapan mental, finansial, dan lingkungan.

Pentingnya kalian harus punya tujuan pernikahan yang sama. Kalau kamu ingin menikah karena tuntutan orang tua, dikejar usia, melihat betapa indahnya pesta pernikahan temanmu, atau romantisnya pasangan temanmu habis nikah yang ditampilkan di media sosialnya.

Sebaiknya kamu tunda dulu untuk menikah. Pahami ya, setelah menikah akan ada banyak perubahan yang terjadi tidak hanya indah-indah saja. Tujuan pernikahan yang sama buat mencocokkan seberapa jauh komitmen kamu dan dia untuk meminimalisir “drama-drama” yang muncul dalam pernikahan kalian.

Tujuan pernikahan ini bisa dilihat dari tujuan hubungan kalian saat ini itu apa. Apakah untuk keseriusan hubungan ke depan atau ingin berpacaran saja? Bagaimana problem solving kalian selalu menyelesaikan masalah yang terjadi atau suka pilih kabur?

Bisakah kamu dan dia berbagi peran rumah tangga setelah menikah? Sudah seberapa siap mental kalian menjalani hubungan ke depan. Kesiapan mental ini menyangkut cara kalian berpikir dan menangani masalah yang terjadi.

Perhatikan juga, seberapa baik perencanaan keuangan kalian saat ini. Setelah nikah akan banyak kebutuhan rumah tangga yang harus kalian penuhi. Jika kamu atau dia masih belum sanggup, maka tunda dulu daripada bercerai di kemudian hari.

Kamu perlu tahu, anak broken home bukan selalu menyangkut orang tua yang memutuskan untuk bercerai. Tapi kondisi keluarga antara orang tua dengan anak tidak memiliki hubungan emosional yang erat.

Ketidaksiapan kamu atau dia dalam berumah tangga bisa memengaruhi dalam membesarkan anak. Hubungan pernikahan kalian yang tidak bahagia bisa membuat anak-anakmu merasakan hal itu.

Ketidakbahagiaan kalian bisa menjadi sumber kekhawatiran bagi anak-anakmu. Akhirnya anak-anakmu bisa berlaku sama seperti kalian sebagai orang tuanya. Anakmu bisa tidak bercerita apa yang mereka rasakan ke orang tuanya karena anakmu tidak ingin menambah beban pikiran kalian.

Setelah menikah kamu ingin hubunganmu bahagia dan langgeng sama dia. Yang harus kalian menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan suportif

Ingin Hubunganmu Bahagia dan Langgeng dengan Belajar dari Cinta
Kim Ji-Young Born 1982 (image: hancinema.net)

Kalian menikah punya kewajiban untuk menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan suportif untuk perkembangan mental anak-anak kalian. Mental anak yang baik bisa menumbuhkan potensi anak jadi lebih sehat di masa depan.

Anak yang merasa tidak aman dan nyaman perasaannya bisa membuatnya jadi stres dan depresi. Contohnya, ayah ibunya bercerai di mata si anak melihat keluarganya tidak utuh lagi. Dampak psikologi yang dialaminya, seperti masalah emosi, komitmen, hingga mental.

Anak akan kesulitan untuk mengontrol emosinya, perasaan takut dalam membina hubungan dengan orang lain, dan risiko kesehatan mental yang tinggi. Contohnya, trauma, gangguan mood, depresi, hingga terlibat perbuatan kriminal.

Anak yang tumbuh dari keluarga broken home, dia bisa tumbuh jadi pribadi egois. Kenapa? Anak sering melihat, bahkan meniru kebiasaan orang tuanya yang tidak akur itu. Hingga anak berpikir itu sesuatu yang wajar dan normal terjadi.

Ketika anak membina hubungan cinta dengan orang lain, dia berisiko akan mengulangi pola keluarga broken home yang tidak sehat itu. Anak itu peniru yang ulung. Jadi, jangan menikah karena dikejar usia atau tuntutan keluarga.

Pikirkan dengan matang dan jangan tergesa-gesa. Pernikahan kalian yang bahagia bisa membesarkan anak-anak yang bahagia pula. Tinggalkan komentarmu apabila masih ada yang kurang dimengerti.

Follow Instagram @ruang cinta berfokus bahas apa pun masalah toxic relationship, broken relationship, premarital, dan bad marriages. Ingin curhat? Kamu menginginkan solusi lebih profesional dari konselor ke menu layanan curhat.

Pastikan kamu subscribe dengan menyalakan notifikasi di browser kamu agar tidak ketinggalan update terkini. Untuk informasi lesson tambahan dari KCS Talks, silakan cek ke pembelajaran cinta eksklusif.



Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *