2 Penyebab Inara Rusli Korban Pelakor Berubah Jadi Pelaku

Inara Rusli Korban Pelakor Berubah Jadi Pelaku Selingkuh

Kasus perselingkuhan antara Inara Rusli dan pengusaha Insanul Fahmi memicu sorotan publik tentang korban pelakor berubah jadi pelaku selingkuh. Bahwa Inara Rusli pernah berada di posisi korban. Di balik kasus viral ini ternyata memiliki masalah psikologis yang kompleks.

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi mengenai isu rumah tangga yang ditinjau dari perspektif psikologi berdasarkan informasi yang telah beredar di ruang publik. Tidak bermaksud untuk menghakimi, menyudutkan, atau menyatakan kebenaran mutlak atas pihak-pihak yang terlibat. Semata-mata untuk diambil pelajaran moral dan psikologisnya bagi kita semua.

Nonton Kok Bisa Inara Rusli Korban Pelakor Berubah Jadi Pelaku?

Kronologi Singkat Wardatina Mawa Melaporkan Inara Rusli dan Insanul Fahmi

Wardatina Mawa, seorang influencer asal Medan sekaligus istri Insanul Fahmi melaporkan Inara Rusli dan suaminya ke Polda Metro Jaya atas dugaan perselingkuhan. Mawa membawa bukti kuat, berupa rekaman CCTV 2 jam yang memuat perbuatan tidak senonoh Insan dan Inara.

Kasus ini mengejutkan publik karena Inara Rusli menjadi simbol kekuatan bagi korban perselingkuhan. Sebab Inara mengalami rasa sakit menjadi korban pengkhianatan di masa lalu, kini ia dituduh jadi perusak rumah tangga orang.

Mawa menceritakan kisahnya di kanal YouTube Denny Sumargo tentang hubungan suaminya sama Inara yang awalnya hanya sebatas rekan bisnis, tapi kemudian menunjukkan tanda-tanda kedekatan yang bikin Mawa semakin curiga.

Lewat video klarifikasi di kanal youtube dr. Richard Lee, bahwa Insan mengaku dia sudah nikah siri dengan Inara pada Agustus 2025 lalu. Insan juga mengungkapkan perasaannya terhadap Mawa tetap ada. Pernyataan itu membuat polemik semakin ramai.

Kasus viralnya Insanul Fahmi dan Inara Rusli hanyalah satu dari sekian banyak kisahnya di luar sana yang menunjukkan satu fenomena pahit.

“Kok bisa korban pelakor berubah jadi pelaku selingkuh?”

Jawabannya tidak sesederhana moralitas baik atau buruk. Di sana ada luka trauma di masa lalu yang belum sembuh dan rendahnya kecerdasan ketahanan emosional (AQ).

Menurut penelitian European Journal of Trauma & Dissociation tahun 2024 yang berjudul “Partner betrayal trauma and trust: Understanding the impact on attachment style and self-esteem.”

Orang yang mengalami trauma pengkhianatan sering mengembangkan pola perilaku yang defensif. Istilahnya ia takut disakiti, tapi justru membuatnya masuk ke pola yang rawan melukai orang lain. Ibaratnya, ia justru mengulangi pola toxic yang pernah melukainya.

Hal ini terjadi karena luka trauma di masa lalu tidak diproses dengan baik, maka luka itu akan mencari jalan keluarnya. Sayangnya arah keluarnya tidak selalu sehat.

Lewat artikel ini, saya kupas tuntas masalah trauma yang belum sembuh di masa lalu dapat menciptakan pola yang berulang di kemudian hari. Saya juga memiliki solusi praktis agar siklus luka di masa lalu tidak terus terulang. Simak ya!

Baca juga: 7 Pelajaran Tabiat Istri Selingkuh dari Kasus Selebgram Jule

2 Faktor Penyebab Korban Pelakor Berubah Jadi Pelaku

inara rusli korban pelakor berubah jadi pelaku selingkuh - kisah cinta sejati portal psikologi cinta
Ilustrasi Insanul Fahmi dan Wardatina Mawa saling menatap. Ekspresi Inara Rusli lagi menatap kamera (Foto: Instagram@insanulfahmi @mommy_starla @wardatinamawa)

Fenomena seorang wanita yang dulu korban pelakor sekarang berubah jadi pelaku karena rendahnya Adversity Quotient (AQ) atau dikenal kecerdasan ketahanan emosional pada dirinya.

Konsep Adversity Quotient yang diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz adalah kemampuan orang untuk bertahan dan bangkit dari tekanan emosional. Ketika AQ kamu rendah, maka mekanisme pertahanan mental yang muncul sering bersifat merusak.

Gampangnya, kamu cenderung mengambil keputusan impulsif bukan karena jahat, tapi karena kamu belum pulih dari luka trauma di masa lalu.

Mekanisme “You Have to Feel What I Felt” (Balas Dendam Emosional)

Mekanisme ini muncul karena ada dorongan untuk mencari validasi emosional, atau kompensasi atas rasa sakit di masa lalu. Yang efeknya logika orang yang AQ rendah jadi terdistorsi. Ia tidak bisa berpikir jernih dan rasional karena mekanisme pertahanan dirinya adalah balas dendam.

“Jika aku bisa lakukan hal yang sama pada orang lain. Aku tidak lagi lemah dan posisiku bukan lagi korban!”

Logika yang terdistorsi ini sebagai upaya untuk mengembalikan kontrol “power” yang dulu pernah hilang (kebahagiaannya pernah dicuri oleh orang ketiga). Sebenarnya ini mekanisme bertahan hidup, tapi arahnya salah dan menghancurkan.

Ia tanpa sadar ingin orang lain merasakan luka yang sama. Kontrol yang ia dapatkan dari menyakiti orang lain bukanlah kemenangan, tapi euforia sesaat yang retak dan justru memperlebar luka semakin dalam.

Jebakan Hormon Stres Saat Trauma Tidak Diproses Secara Baik

Ketika kamu suka memelihara dendam dan kebencian karena ada trauma yang belum sembuh, maka tubuhmu akan dikuasai oleh hormon kortisol atau dikenal hormon stres jadi lebih banyak.

Yang efeknya kamu sulit untuk diajak berpikir jernih dan rasional. Keputusan yang dibuat bukan dari kesadaran (bias kognitif), tapi berasal dari ketakutan akan kehilangan atau ketakutan tidak dicintai.

Apa contohnya? Ketika ada orang lain yang memberi validasi sedikit saja, maka kamu langsung meresponnya itu cinta.

Dia suka sama aku!” atau Dia cinta sama aku!”

Padahal semua itu hanyalah validasi semu. Respon itu pengalihan dari luka di masa lalu.

Sebaliknya, ketika kamu bisa berdamai dengan luka masa lalu. Kamu memilih memaafkan dan move on dengan cara yang sehat, seperti mengobati trauma masa lalu sampai tuntas.

Maka tubuhmu memproduksi dopamin dan serotonin lebih banyak jauh lebih stabil. Yang efeknya kamu dapat berpikir jernih dan solutif secara konstruktif. Ini alasan biologis kamu yang sudah pulih dari trauma cenderung mampu memutus siklus perselingkuhan.

Baca juga: Pernikahan 5 Tahun Seperti Neraka, Selebgram Cut Intan Nabila Terjebak Dilema Cinta

Korban Pelakor Berubah Jadi Pelaku Selingkuh Karena Sindrom Fortunata

inara rusli korban pelakor berubah jadi pelaku selingkuh - kisah cinta sejati portal psikologi cinta
Ilustrasi pose tersenyum Insanul Fahmi dan Inara Rusli (Foto: Instagram@insanulfahmi @mommy_starla)

Selain Adversity Quotient (AQ) yang rendah, ada dorongan psikologis lain di balik ketertarikan pada pria beristri. Wanita yang pernah jadi korban perselingkuhan bisa terkena sindrom fortunata.

Ketika wanita ini berubah jadi pelaku perselingkuhan karena ada keterikatan emosional secara obsesif terhadap pria yang sudah menikah. Sindrom fortunata diambil dari novel abad ke-19 yang berjudul “Fortunata y Jacinta”, novel karya Benito Pérez Galdós yang menceritakan tokoh wanita yang berulang kali menjalin hubungan romantis dengan pria beristri.

Wanita dengan sindrom fortunata tertarik sama pria beristri bukan karena rasa cinta, tapi obsesi dan kebutuhan validasi yang berasal dari luka emosional. Wanita ini sering dijumpai punya masalah harga diri yang rendah (Self-Esteem).

Wanita dengan sindrom fortunata punya mindset sederhana tapi keliru.

  • “Kalau dia pilih aku berarti aku lebih layak dicintai!”
  • Jika dia rela khianati istrinya demi aku itu artinya aku lebih berharga!”

Tindakan mencuri suami orang sebagai cara untuk dirinya merasa berdaya, alias powerful. Tindakannya bukanlah cinta, tapi obsesi yang lahir dari luka emosional.

Semua itu tentang kebutuhan emosional yang belum pernah sembuh. Wanita dengan attachment style yang buruk atau tidak aman, maka ia lebih mudah terjebak pada hubungan tidak sehat, seperti perselingkuhan.

Maka tak heran, banyak kasus wanita pelakor punya keyakinan akan diperlakukan berbeda. Tapi pelakor lupa seorang pria yang pernah berbohong dan menipu istrinya, maka pria itu akan lakukan perilaku yang sama pada selingkuhannya di kemudian hari.

Baca juga: Tipe Suami Mirip Firaun Contohnya Suaminya Selebgram Cut Intan Nabila

4 Solusi Memutus Luka Masa Lalu Korban Pelakor Berubah Jadi Pelaku

inara rusli korban pelakor berubah jadi pelaku selingkuh - kisah cinta sejati portal psikologi cinta
Ilustrasi Inara Rusli berpose menjadi princess. Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi ungkap cinta lewat simbol (Foto: Instagram@insanulfahmi @mommy_starla @wardatinamawa)

Bisakah siklus ini dihentikan? Bisa tapi butuh kesadaran untuk mengenali apa yang sebenarnya yang kamu cari. Saya punya problem solving yang bisa kamu lakukan.

Identifikasi Kebutuhan Dasarmu Dulu

Tanyakan pada dirimu sendiri yang sebenarnya kamu cari. Apakah kamu cari kasih sayang, validasi, atau stabilitas ekonomi? Lalu penuhi kebutuhanmu itu lewat cara yang sehat.

    • Butuh kasih sayang, maka cari pasangan yang jelas statusnya. Seorang pria yang benar-benar belum memiliki pasangan dan tidak terikat pernikahan yang sah.
    • Kalau masalah ekonomi, maka bangun kemandirian finansial. Fokuslah pada bidang yang kamu kuasai. Jika pemasukan kamu masih belum cukup, maka cari pemasukan lain dari freelance atau berbisnis.
    • Ngebet cari pasangan karena tidak mau kesepian, maka cari rasa aman dengan membentuk self-esteem bukan merebut validasi orang lain. Caranya kamu bisa ikut konseling trauma dan bentuk support sistem yang stabil.

    Latih Adversity Quotient (AQ)

    Kamu bisa melatih kecerdasan ketahanan emosional dirimu.

      • Control (Kontrol). Sejauh mana kamu yakin bisa berubah. Fokuslah pada apa yang bisa kamu ubah bukan yang tidak bisa kamu ubah.
      • Ownership (Kepemilikan). Sadari kamu memiliki masalah yang belum selesai bukan malah menyalahkan orang lain.
      • Reach (Jangkauan). Jangan biarkan satu masalah dapat merusak hidupmu, seperti harga diri, karier, pertemanan, dan kesehatan.

      Jangan Merawat Dendam dan Kebencian

      Jangan biasakan diri merawat dendam dan kebencian karena tubuhmu akan terus memproduksi hormon stres. Belajar memaafkan dan menerima kondisi yang terjadi.

      Lakukan aktivitas yang menyehatkan, seperti berolahraga, melakukan meditasi, atau menulis diary. Tubuhmu akan terus memproduksi dopamin dan serotonin bisa membantu kamu berpikir jernih dan mencari solusi atas masalahmu.

      Cari Bantuan Profesional

      Psikolog klinis dapat membantu kamu mengobati trauma masa lalu. Kamu akan belajar tentang forgiveness, alias cara memaafkan diri sendiri untuk memulihkan rasa sakit.

        Pelan-pelan kamu belajar tentang kesadaran untuk mengenali apa yang sebenarnya yang kamu cari. Luka masa lalu itu akan berhenti mengendalikan hidupmu. Luka yang kamu hadapi akan mendewasakan hidupmu.

        Baca juga: 2 Pelajaran dari Selebgram Jule yang Selingkuh, Istri Nusyuz Diceraikan Suami

        Kesimpulan Luka Trauma Korban Pelakor Berubah Jadi Pelaku

        inara rusli korban pelakor berubah jadi pelaku selingkuh - kisah cinta sejati portal psikologi cinta

        Kasus viral Inara Rusli dan Insanul Fahmi bukan sekadar drama selebriti. Tapi ini cermin kalau luka masa lalu bisa membentuk pilihan kamu hari ini. Jika kamu pernah disakiti, maka kamu punya dua pilihan. Mengulangi luka trauma yang sama, atau kamu memutusi rantai trauma itu selamanya.

        Apakah wanita yang pernah jadi korban perselingkuhan lebih rentan mengulangi pola yang sama ataukah ia justru harus bertanggung jawab sama pilihannya? Tulis pendapatmu di kolom komentar siapa tahu jawaban kamu bisa membantu orang lain.

        Terima kasih sudah membaca postingan ini, kalau kamu suka postingan dulu korban pelakor sekarang jadi pelaku ini bermanfaat. Silakan share di media sosialmu agar lebih banyak lagi teman-temanmu yang memahami topik ini.

        Yang ingin curhat masalah cinta dan menginginkan solusi profesional tanpa menghakimi. Kisah cinta sejati punya teman curhat cinta online untuk mendengarkan masalah kamu. Curhat ini bukan bersifat konseling ya, curhat cinta online

        Belajar bareng seputar keintiman dan gairah dalam hubungan romantis. Pantau terus channelYoutube @Melek Cinta, Instagram @Ruang Cinta, dan Facebook @Melek Romansa yang berisi konten psikologi cinta dipersonalisasi hanya untuk kamu.

        Setelah kamu membaca korban pelakor sekarang jadi pelaku, apakah kamu punya komentar? Jika kamu punya pengalaman yang serupa bisa berbagi kisahmu di kolom komentar. Siapa tahu jadi inspirasi buat teman-teman yang lain. Kita bisa belajar dari pengalaman kamu.

        Suka artikel ini? Yuk bantu share ke teman-temanmu!

        Tinggalkan Komentar

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

        Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

        Scroll to Top