Apa pernah kamu alami kejadian ini? Ada pria tidak kamu kenal. Tiba-tiba pria itu jelaskan sesuatu, tapi omongannya seperti meremehkan kamu. Kejadian itu disebut Mansplaining. Lewat artikel ini, saya mau sharing cara hadapi pria mansplaining yang disertai contoh kasus. Simak ya!
Isi Artikel
Curhat Perempuan yang Terkena Mansplaining
Ada dua orang wanita yang bercerita di ruang curhat tentang dirinya di-mansplaining. Melek Cinta mau sharing cerita mereka yang sudah disetujui agar banyak wanita dapat belajar dari kisahnya.
Dewi Bertemu Pria Menggurui Bertubuh Atletis di Gym

Dewi (nama samaran) berusia 28 tahun saat lagi fokus dumbbell squat dan hip thrust dengan bantuan video tutorial latihan kekuatan dengan beban di gym. Tapi fokusnya langsung buyar karena ada pria bertubuh atletis yang tiba-tiba datang sambil berkata…
“Itu tekniknya salah yang bener kayak gini!”, ucap pria bertubuh atletis itu.
Lucunya tidak diminta, pria ini mulai menjelaskan gerakan Dewi yang salah. Apalagi pria ini bukanlah pelatih gym atau teman yang Dewi kenal. Hanyalah orang asing yang merasa perlu memberi ‘pencerahan’ pada Dewi di gym.
Dewi pun berkata terima kasih dan berharap tidak bertemu sama pria itu lagi. Ketika Dewi latihan esok lusa, harapan itu pupus karena pria yang bertubuh atletis datang lagi menghampiri Dewi. Ia mulai bercerita pengalamannya berolahraga, hingga pekerjaannya sebagai pegawai pajak.
“Aku nggak minta dia bragging soal kerjaannya dan olahraganya, tapi dia trus aja bicara!”, ucap Dewi kesal saat bicara sama Melek Cinta di ruang curhat.
Fyp: Bragging adalah bicara membual yang terlalu membanggakan diri tentang pencapaian atau prestasi atas kepemilikan diri sendiri.
Baca juga: Luna Maya Menikah, Pria Misoginis Berkomentar Seksisme
Ide Anna Direndahkan Saat Rapat Karena Pilihan Hidupnya

Kejadian Dewi juga dialami oleh Anna (nama samaran) berusia 36 tahun di ruang rapat. Beberapa kali rapat ada rekan kerja pria yang mengkritik ide Anna tidak kompeten dengan nada merendahkan.
Pendapat Anna sering diabaikan atau diremehkan bukan karena idenya buruk, tapi pilihan hidupnya yang berbeda. Anna memutuskan memilih hidup melajang karena alasan tidak ingin berkomitmen pada pernikahan tradisional.
“Karena kondisiku yang pilih hidup melajang! Aku jadi males ngasih saran karena harus buktiin dulu kalo usulanku beneran bakal berhasil!”, ucap Anna kesal saat cerita kejadian itu sama Melek Cinta di ruang curhat.
Anna layaknya wanita pada umumnya sudah mempertimbangkan semua risiko dan mengukur kemampuan dirinya. Hingga pada satu titik memilih untuk hidup melajang sebagai pilihan terbaik dirinya.
Yang dialami oleh Dewi dan Anna adalah Mansplaining. Kelakuan pria yang menjelaskan sesuatu pada wanita dengan cara merendahkan harga diri wanita, seperti meremehkan atau menghina.
Yang seolah-olah si wanita tidak tahu apa-apa. Pria menjelaskan sesuatu bukan sekadar berbagi ilmu, tapi sesungguhnya tentang perasaan dominasi atau keinginan untuk menunjukkan siapa yang berkuasa.
Ucapan yang bernada mansplaining muncul dalam banyak bentuk, seperti sindiran yang blak-blakan, hingga terselip berupa candaan. Asumsi wanita itu lemah dan tidak kompeten. Kejadian mansplaining seperti itu banyak wanita yang akhirnya malas untuk bersuara.
Baca juga: Menikahi Pria Maskulin Rapuh Siap-siap Pernikahanmu Berubah Toxic
Mansplaining Lahir dari Budaya Patriarki

Mansplaining bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi berakar dari budaya patriarki terstruktur yang menganggap pria sebagai pihak yang lebih tahu, lebih logis, dan lebih pantas untuk didengar.
Rebecca Solnit seorang penulis dan aktivis dalam esainya “Men Explain Things to Me” menyebutkan mansplaining lahir dari ketidaktahuan yang dibungkus oleh rasa percaya diri yang berlebihan.
Budaya patriarki yang terbentuk dari norma gender tradisional telah memberikan pria sebuah panggung dan mikrofon sejak kecil. Pria dibiasakan untuk berbicara, didorong untuk jadi memimpin, hingga diberi ruang lebih besar untuk berpendapat.
Sedangkan wanita sering kali disuruh diam, mendengar, dan menerima. Ini sebabnya mansplaining bukan sekadar pola pikir individual, tapi hasil dari cara pria yang dibesarkan sejak kecil.
Gampangnya, sejak kecil pria diberi pengetahuan supaya siap jadi pemimpin, sedangkan wanita justru dibatasi. Maka hasilnya pria tumbuh merasa opininya paling valid, bahkan bisa berikan ‘pencerahan’ saat tidak diminta.
Baca juga: Pria Sok Macho Akibat Tidak Mampu Membranding Kejantanannya
Efek Psikologis Mansplaining Bagi Wanita

Seperti pengalaman Dewi yang di-mansplaining di gym. Kejadian itu bikin Dewi jadi kehilangan rasa percaya diri saat berolahraga. Gym seharusnya ruang aman untuk tubuh dan pikiran malah berubah jadi ruang intimidasi.
Gerakan Dewi yang dianggap salah oleh pria bertubuh atletis. Ia tiba-tiba datang merasa perlu ‘mendidik dan mengoreksi’ gerakan Dewi yang salah.
Sama halnya seperti Anna bukan hanya dipermalukan karena pilihan hidupnya, tapi kejadian itu bisa menghambat kontribusi Anna untuk berprestasi di kantor. Trauma ditolak bikin Anna jadi malas keluarkan ide segarnya.
Banyak wanita seperti Anna di kantor lebih pilih diam bukan tidak punya ide, tapi takut dihina atau dianggap remeh oleh rekan kerja pria karena asumsi kurang berpengetahuan.
Efek psikologis mansplaining bagi wanita dapat memicu trauma. Perilaku ini dapat memperkuat stereotip gender yang negatif. Asumsi pria lebih berpengetahuan dan kompeten daripada wanita.
- Penurunan rasa percaya diri atas kemampuan dan pengetahuannya sendiri karena sering digurui atau dianggap tidak kompeten.
- Perasaan tidak berharga akibat sakit hati atau merasa malu atas kelakuan mansplaining.
- Menghambat produktivitas dan kemajuan karier karena wanita merasa tidak punya rasa memiliki di kantor (idenya diabaikan atau diremehkan).
- Memicu masalah kesehatan mental apabila kelakuan mansplaining terjadi terus-menerus berisiko mengalami depresi, hingga menarik diri dari sosial.
Baca juga: Pria Toxic Masculinity Bikin Wanita Stres Setelah Menikah
4 Cara Hadapi Pria Mansplaining

Cara hadapi pria mansplaining tergantung kenyamanan dan situasi. Kamu harus berikan batasan yang tegas dan berusaha tetap tenang (tidak terpancing emosi) agar tidak memperburuk keadaan.
Melek Cinta berikan beberapa strategi yang bisa digunakan oleh Dewi dan Anna.
Tegas Tapi Sopan
Kamu bisa beri tahu langsung pada pria yang lagi lakukan mansplaining ini, bahwa kamu sudah paham dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Ambil contoh untuk kasusnya Dewi di gym.
“Terima kasih, saya udah ngerti! Saya bisa lakukan ini sendiri”
Atau bisa juga Dewi berkata.
“Terima kasih, saya ngerti apa yang saya lakukan! Mohon maaf, saya nggak nyaman kalo dijelasin trus tanpa diminta!”
Contoh kalimat di atas cocok untuk kamu merasa aman dan punya ruang untuk bicara langsung pada orangnya.
Gunakan kata ‘Saya’ bukan ‘Aku’ karena itu pilihan aman saat berbicara untuk menunjukkan rasa hormat, terutama pada orang asing yang belum kamu kenal.
Klarifikasi Langsung
Jika kamu punya energi dan memilih klarifikasi langsung, maka berusaha tetap tenang dan tidak emosional. Ambil saja kasusnya Anna di tempat kerja.
Meski Anna merasa marah atau frustrasi. Gunakan bahasa yang sopan tidak menggunakan nada suara yang tinggi (terlalu keras).
“Terima kasih, saya sudah mengerti hal itu!”
Atau Anna juga bisa merespon.
“Saya menghargai pandangan Anda, tapi saya sudah menjelaskan bagian itu!”
Anna juga bisa tunjukkan penguasaan tentang topik yang dibahas. Ambil saja contohnya.
- Ajukan pertanyaan untuk mempertegas keahlianmu tentang topik tersebut. Sampaikan pula pemahamanmu secara jelas dan tegas untuk pastikan pandanganmu itu didengar dan dihargai.
- Gunakan data dan fakta yang mendukung pandanganmu untuk membuktikan kamu memahami topik tersebut. Ini untuk membantu kamu mempertegas posisimu dalam rapat (penguasaan topik yang dibahas).
- Jangan ragu untuk bertanya pada pria itu seberapa jauh pandanganmu bisa dipahami dengan baik agar terhindar dari kesalahpahaman.
- Terakhir jangan biarkan dirimu terjebak dalam perdebatan tidak berguna. Ingat pria mansplaining ingin merasa superior dalam rapat (ingin punya kontrol atas pembicaraan).
Lapor ke Otoritas Berwenang
Jika kamu mengalami mansplaining seperti kasusnya Dewi dan Anna bisa melaporkan ke otoritas setempat.
- Dewi bisa mengadu ke manajer atau staf gym tentang kelakuan salah satu anggota yang bikin dia tidak nyaman berolahraga. Manajer atau staf gym punya tanggung jawab untuk menjaga kenyamanan dan rasa aman para anggota gym.
- Anna bisa mengadu ke atasannya atau HRD tentang kelakuan rekan kerja pria yang mansplaining. Kelakuan itu menyerang kehormatan dirinya dan bukan bentuk profesionalisme.
Pilih Menghindar
Jalan terbaik adalah menghindar dari situasi yang merugikan kamu. Pilihan menghindar bukan karena kamu lemah, tapi kamu berhak menjaga kesehatan mentalmu juga energimu agar tidak terbuang sia-sia.
Contohnya saja, kamu bisa minta bantuan rekan kerja pria yang sadar soal mansplaining untuk menjelaskan ucapannya merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Pria mansplaining cenderung lebih mendengarkan kalau yang bicara itu sesama pria.
Baca juga: Ciri Pria Tebar Pesona Sang Womanizer dan Narsis
Pria Jangan Cuma Jadi Enabler

Pria juga punya peran penting dalam menghentikan budaya mansplaining. Gimana caranya? Pria harus belajar berempati bukan cuma lewat teori, tapi lewat praktik yang nyata.
Contohnya terlibat langsung dalam pengasuhan anak atau ikut komunitas yang mendorong keterbukaan dan saling mendengarkan. Empati pria akan diuji saat berhadapan sama kelompok marjinal.
Kalau pria sudah paham tentang mansplaining, tentu saja jangan diam saat melihat kejadian itu terjadi. Pria bisa tunjukkan ketidaksetujuan dengan cara asertif dan jelaskan sikap itu bukan perilaku pria sejati.
Kesimpulan Cara Hadapi Pria Mansplaining
Mansplaining bukan sekadar komentar, kritikan, atau masukan, tapi bentuk halus untuk meremehkan atau membungkam suara hati wanita. Ingat menghadapi mansplaining bukan tanggung jawab wanita saja, tapi pria juga harus belajar mendengarkan bukan hanya berbicara.
Bagi kamu yang pernah jadi korban, seperti Dewi dan Anna. Tahu satu hal ini, kamu tidak sendiri dan suaramu itu penting. Pengalaman hidup dan pengetahuan kamu itu valid.
Kamu berhak menentukan kapan dan bagaimana kamu ingin didengar. Cukup satu kalimat sederhana bisa jadi pembeda, “Aku nggak minta dijelasin, Bang!” untuk menghadapi pria mansplaining.
Terima kasih sudah membaca postingan ini, kalau kamu suka postingan cara hadapi pria mansplaining ini bermanfaat. Silakan share di media sosialmu agar lebih banyak lagi teman-temanmu yang memahami topik ini.
Yang ingin curhat masalah cinta dan menginginkan solusi profesional tanpa menghakimi. Melek cinta punya teman curhat bareng psikolog klinis untuk mendengarkan masalah kamu. Teman curhat dibantu psikolog klinis, tapi bukan bersifat konseling ya, curhat cinta online
Belajar bareng isu-isu keintiman dan gairah dalam hubungan cinta. Pantau terus channel Youtube Youtube @Melek Cinta, Instagram @Ruang Cinta, dan Facebook @Melek Romansa berisi konten dipersonalisasi hanya untuk kamu.
Apa kamu punya komentar tentang cara hadapi pria mansplaining? Jika kamu punya pengalaman yang serupa bisa berbagi ceritamu di kolom komentar. Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat teman-teman yang lain. Kita juga bisa belajar dari pengalaman kamu.







