Pernikahan itu indah dan manis, tapi bukan pelarian dari masalah hidupmu. Menikah bukan otomatis bahagia karena rasa bahagia itu hadir saat kamu dan dia saling bertumbuh, berkontribusi, dan bersyukur. Ada 5 alasan yang salah untuk menikah dari hasil sharing teman-teman di ruang curhat Melek Cinta.
Isi Artikel
Pernikahan Dianggap Puncak Kesuksesan Hidup
Banyak masyarakat Indonesia memiliki pandangan pernikahan adalah puncak kesuksesan dalam hidup. Pernikahan sebagai patokan kedewasaan dan kebahagiaan seseorang.
Hal ini terlihat adanya perbedaan perlakuan dalam masyarakat cenderung memberikan ‘apresiasi’ terhadap orang yang sudah menikah, meski kondisi finansialnya belum stabil.
Berbeda dengan orang belum menikah tidak menerima ‘apresiasi’ yang sama, meski orang itu memiliki kondisi finansial yang siap. Maka orang itu disebut belum dewasa. Kamu belum menjadi orang yang utuh dan bahagia dalam hidup.
Ibaratnya, kamu belum menikah di usia siap menikah, maka kamu belum menjadi orang yang sukses. Meski kamu memiliki karier dan pendidikan yang bagus.
Pertanyaannya!
“Apakah orang yang menikah otomatis bahagia?”
“Betulkah orang yang belum menikah otomatis tidak bahagia?”
Pernikahan diglorifikasi menjadi satu-satunya jalan menuju kebahagiaan ‘kehidupan yang lengkap’, maka tidak sedikit orang yang akhirnya memilih jalan instan untuk menikah.
Yang penting menikah bukan menikah karena siap lahir batin.
Ambil saja contohnya, kamu merasa minder karena banyak undangan pernikahan yang datang bertubi-tubi dari teman-temanmu. Kamu merasa cemas ketika usia bertambah, tapi belum ada pasangan.
Maka bermunculan pertanyaan-pertanyaan dalam diammu.
“Apakah aku salah?” atau “Apakah aku terlalu pemilih?”
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, maka ada baiknya kamu mulai bertanya pada dirimu sendiri.
Apakah keinginan menikah itu betulan muncul dari hati? Ataukah hanya pelarian dari suatu persoalan yang belum selesai dalam hidupmu?
Baca juga: 3 Hal Saya Belajar dari Luna Maya Tentang Jodoh Sekufu
5 Alasan yang Salah Untuk Menikah Menurut Melek Cinta
Melek Cinta sudah merangkum alasan yang salah untuk menikah di ruang curhat. Kebanyakan alasan teman-teman yang curhat, seperti perasaan tertekan, kesepian, takut tertinggal, hingga ada rasa lelah dalam hidup. Simak ya!
Tuntutan Keluarga

Alasan yang salah untuk menikah adalah munculnya tekanan yang berasal dari keluarga, terutama perempuan yang sudah memasuki usia 20-an. Alasan klasik yang menyakitkan untuk mendesak perempuan segera menikah.
“Perempuan itu ada masa kadaluwarsanya!”, atau “Jangan pilih-pilih nanti tidak ada laki-laki yang mau!”
Seolah-olah hidup perempuan hanya berguna kalau sudah jadi seorang istri dan ibu. Perempuan menikah sudah menjadi perempuan yang utuh dan bahagia dalam hidup.
Belum lagi pandangan dari masyarakat yang memberikan batasan bagi perempuan untuk menikah di usia 20-an. Apabila perempuan belum menikah melebihi batas usia, misalnya 25 tahun lebih. Apalagi usia 30 tahun, maka perempuan dapat stigma telat menikah atau perawan tua.
Munculnya desakan untuk menikah dan stigma perawan tua yang beredar luas, maka banyak perempuan yang lelah dan ingin cepat-cepat ‘melepas’ statusnya.
Yang akhirnya banyak perempuan terpaksa berkata ‘iya’ untuk menyenangkan keluarganya. Padahal menikah bukan soal formalitas saja, tapi ada tanggung jawab besar yang mengikutinya.
Kalau awal menikah kamu sudah terpaksa (ada unsur keterpaksaan bukan karena ikhlas untuk menikah), maka besar kemungkinan setelah menikah kamu akan menjalaninya setengah hati.
Kamu akan bangun pagi setiap harinya ada perasaan terjebak bukan rasa bersyukur. Yang lama-lama kamu bosan menjalani pernikahanmu, meski pasanganmu dapat memenuhi kewajibannya berumah tangga.
Baca juga: Luna Maya Menikah Bukan Pernikahan Cinderella ( Ini 2 Alasan)
Tidak Mau Kesepian

Tidak mau kesepian termasuk alasan yang salah untuk menikah. Kesepian itu nyata semakin bertambahnya usiamu. Teman-temanmu semakin sibuk dengan urusan hidupnya masing-masing, dan waktu luangmu juga semakin langka.
Wajar kamu jadi merasa ingin punya teman yang selalu ada, teman yang bisa diajak bicara sebelum tidur, dan teman yang bisa menemanimu saat pagi. Lalu kamu pilih menikah untuk mengusir kesepianmu.
Ingat, pernikahan bukanlah obat mujarab yang langsung bisa untuk mengusir kesepianmu. Meski kamu menikah suasana sepi itu akan tetap muncul, bahkan lebih sunyi sebelum kamu menikah.
Kenapa?
Ketika cinta dan komunikasi dalam pernikahanmu itu tidak tumbuh. Kamu dan dia tidak ada komunikasi yang asertif, maka kamu akan tetap merasa kesepian. Kalau kamu menikah hanya untuk mengusir kesepian karena ingin ada yang menemani kamu.
Pertanyaannya, jika suatu hari pasanganmu harus pergi jauh demi masa depannya, misalnya bekerja di luar kota. Apakah kamu sudah siap menerima itu? Ataukah kamu malah jadi posesif dan mengekang pasanganmu?
Baca juga: 9 Ciri Cewek Siap Menikah Sudah Siap Jadi Istri, Bro!
Ingin Dibahagiakan

Ingin dibahagiakan adalah alasan yang salah untuk menikah. Semua orang pasti ingin bahagia bukan hanya kamu saja yang ingin bahagia, tapi pasanganmu juga ingin bahagia dalam hidupnya.
Yang jadi pertanyaan, apakah kamu berharap setelah menikah pasanganmu bisa membahagiakan kamu? Dengan menikah kamu otomatis bahagia.
Kalau jawabanmu ‘iya’ otomatis bahagia, maka kamu perlu berhenti sejenak dulu. Renungkan dan tenangkan dulu pikiranmu karena rasa bahagia itu bukan tugas pasangan, tapi tanggung jawab dirimu sendiri.
Kamu berpikir dengan menikah, maka kamu otomatis bahagia. Kamu menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaanmu. Yang ada kamu rentan kecewa saat berbenturan dengan realita kehidupan.
Sebaik apa pun pasanganmu, sehebat apa pun pasanganmu, seroyal pun pasanganmu, atau seromantis apa pun pasangan.
Ingat, pasanganmu itu manusia biasa. Ia bisa lelah dan juga bisa salah. Ia juga bisa tidak tahu apa yang kamu butuhkan apabila kamu sendiri juga tidak tahu apa yang kamu butuhkan.
Baca juga: Cowok Serius Siap Menikah (Kenali 10 Tandanya)
Mantan Sudah Menikah Atau Sahabat

Alasan yang salah untuk menikah kerap muncul. Ada suatu masa di mana undangan pernikahan teman-temanmu yang berseliwaran di Instagram dan WhatsApp kamu. Foto-foto yang bahagia, resepsi pernikahan yang indah, dan doa-doa romantis yang bertebaran.
Kamu pun melihat mantanmu di Instagramnya, orang yang dulu kamu cintai sekarang sudah menjadi suami atau istri orang lain. Kamu tanpa sadar mulai membandingkan hidupmu dengan mereka.
“Kok aku belum ya? Apa aku kurang sesuatu?”
“Kok dia udah duluan, jadi aku tertinggal dari dia!”
Pertanyaannya, kamu tertinggal dari apa? Emang dari siapa? Ingat, pernikahan itu bukan kompetisi lari. Bukan siapa cepat duluan dia yang menang di garis finish. Semua orang sudah punya garis start dan finish yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
Menikah karena takut jadi yang terakhir bisa berujung pada keputusan yang toxic. Niat awal untuk menikah sudah toxic, maka pernikahan yang berjalan justru ke arah toxic. Yang akhirnya munculnya penderitaan bukan kebahagiaan.
Baca juga: Cek Kecocokan Pasangan Sebelum Menikah Agar Tidak Cerai
Alasan Butuh Uang

Terakhir alasan yang salah untuk menikah secara nyata terjadi dalam masyarakat. Kondisi keuangan keluarga yang sulit, apalagi kamu merasa hidup ini berat dan tagihan terus datang tanpa henti.
Kamu pun beruntung memiliki sosok pasangan berpenghasilan stabil akan terlihat sangat menggiurkan. Kamu memaksa agar bisa menikahi dia dengan harapan hidupmu berubah jadi nyaman.
Kamu menikah karena faktor uang bukan atas dasar cinta, rasa hormat, atau pun batin saling terhubung. Pernikahanmu akan terasa kosong, kamu akan merasa sunyi.
Awal menikah kamu akan merasa nyaman, tapi lama-lama kamu akan merasa pernikahan ini hanya memberikan kenyamanan semu. Yang efeknya kamu pun bosan dan selingkuh adalah pelarian dari masalahmu.
Kamu pun sadar uang tidak bisa membeli kebahagiaan, dan uang bukan satu-satunya menjadi perekat hubungan dalam pernikahanmu.
Cinta yang semu itu gampang luntur, seperti uang itu cepat habis. Tapi komitmen hubungan yang dibangun dari rasa saling percaya, memahami, dan punya tujuan yang sama bisa bertahan sampai ajal memanggil.
Baca juga: Viral Tren Marriage Is Scary Efek Monkey Mind (3 Alasan)
Kesimpulan Alasan yang Salah Untuk Menikah

Menikah bukan cara instan untuk menyembuhkan luka. Pernikahan itu indah dan manis, tapi bukan pelarian dari masalah hidupmu. Jika kamu merasa tertekan, kesepian, takut tertinggal, atau pun lelah dalam hidup.
Menikah tidak otomatis kamu bahagia. Menikah butuh kesiapan bukan cuma finansial, tapi juga emosional, mental, dan spiritual.
Menikah bukan cuma tentang ‘aku dan kamu’, tapi tentang ‘kita’ dalam membangun rumah tangga yang kokoh. Meski badai datang berkali-kali.
Jadi, sebelum kamu memutuskan untuk menikah. Coba bertanya pada dirimu.
“Apakah aku benar-benar ingin menikah? Ataukah aku hanya tidak tahu bagaimana cara menghadapi hidup ini sendirian?”
Kalau kamu belum tahu jawabannya, tidak apa-apa. Renungkan dan peluk dirimu. Sembuhkan dulu luka-lukamu. Jangan lupa bahagiakan dulu dirimu. Kamu yang sudah utuh sendirian akan jauh lebih siap untuk tumbuh bersama orang lain.
Menikah bukan tentang melengkapi yang kurang, tapi bagaimana cara kamu dapat berbagi dengan yang sudah cukup dalam hidupmu.
Terima kasih sudah membaca postingan ini, kalau kamu suka postingan alasan yang salah untuk menikah ini bermanfaat. Silakan share di media sosialmu agar lebih banyak lagi teman-temanmu yang memahami topik ini.
Yang ingin curhat masalah cinta dan menginginkan solusi profesional tanpa menghakimi. Melek cinta punya teman curhat bareng psikolog klinis untuk mendengarkan masalah kamu. Teman curhat dibantu psikolog klinis, tapi bukan bersifat konseling ya, curhat cinta online
Belajar bareng isu-isu keintiman dan gairah dalam hubungan cinta. Pantau terus channel Youtube Youtube @Melek Cinta, Instagram @Ruang Cinta, dan Facebook @Melek Romansa berisi konten dipersonalisasi hanya untuk kamu.
Setelah kamu baca artikel alasan yang salah untuk menikah, apakah kamu punya komentar? Jika kamu punya pengalaman yang serupa bisa berbagi ceritamu di kolom komentar. Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat teman-teman yang lain. Kita juga bisa belajar dari pengalaman kamu.








