Inikah Emosi Cinta

Jangan mudah galau dalam cinta

Dari Kisahcintasejati.com, tempat asyik belajar keromantisan cinta untuk kamu dan si dia.

Jangan mudah galau dalam cinta
Ilustrasi acak tentang Jangan mudah galau dalam cinta (sumber: Pixabay.com)

Jangan mudah galau dalam cinta apalagi penyebabnya terlihat sepele bahkan kalau dipikirkan secara rasional tidak ada manfaat di belakangnya, malah yang ada membatasi potensi yang dimiliki oleh kita dalam mengelola dan mengolah kesempatan yang datang.

Kegalauan yang terjadi mulai dari bingung setengah mati takut dikatakan jomblo, membuang waktu dan pikiran untuk seseorang yang tidak peduli lagi dengan kita, labil dengan bolak balik berpacaran yang alasannya belum menemukan orang yang cocok, suka menyalahkan dan mengkritik kekasihnya tetapi tidak pernah melihat dirinya sendiri.

Sejak dari awal niat dan tujuannya sudah galau setelah memiliki hubungan cinta dengan seseorang tetap saja hidupnya galau, pada gilirannya bermetamorfosis menjadi generasi cinta yang suka berwacana seperti mudah sekali mengeluh, suka menyalahkan, suka sekali menuntut, memiliki pemikiran dirinya berhak untuk bahagia, tidak bersyukur dan mudah sekali menyerah.

Awalnya selalu diisi dengan kegalauan dalam hidupnya, memunculkan sosok bermental labil hanya mampu berwacana yang suka sekali ribut dan cuma bisa heboh di sosial media, namun tidak berani mengambil sikap yang tegas atau bertindak nyata dalam mengambil sebuah keputusan.

Jangan mudah galau dalam cinta kalau awalnya selalu saja galau dalam hidupnya maka kita akan bermental labil cuma bisa heboh di sosial media tetapi tindakan nyatanya nol

Indikatornya mudah galau adalah orangnya bersuara keras namun actionnya kosong, contohnya ingin seorang kekasih yang pengertian, romantis, peka, penyayang dan bertanggung jawab. Apa yang dilakukan olehnya tidak segan-segan merusak hubungan orang lain apabila dia melihat ada seseorang yang dianggapnya sesuai dengan keinginannya.

Baca juga:  Empat Cara Cerdas Mengontrol Emosi Ketika Marah dengan Pasangan

Walaupun dirinya sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri, misalnya A sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri tetapi dirinya melihat kekasihnya A seperti seseorang yang dia inginkan maka dia akan melakukan kontak terus-menerus dengan kekasihnya A bahkan bersedia menjadi kekasih keduanya.

Padahal kalau dirinya sering melakukan kontak dengan A yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri, dia bisa mengambil ilmunya A dengan bertanya apa rumusnya untuk memperoleh seorang yang seperti kekasihnya A tanpa melukai, merusak dan menghancurkan hubungan orang lain.

Contoh lainnya dia selalu menuntut kekasihnya jadi sosok yang pengertian, romantis, peka, penyayang dan bertanggung jawab. Apa yang dilakukannya bahwa dirinya tidak mau dituntut untuk menjadi sosok yang sama seperti dirinya inginkan kepada kekasihnya, istilahnya berat sebelah (mau menang sendiri).

Kalau ada kemauannya tidak dituruti oleh kekasihnya atau ada masalah dalam hubungannya, dia dengan gadgetnya akan menuliskan status di sosial media yang isinya kritik mengenai kekasihnya yang tidak pengertian, tidak romantis, tidak peka dan lain-lain, ketika hasil statusnya dikomentari oleh banyak orang senangnya bukan main.

Baca juga:  Betapa Konyolnya Mengandalkan Hubungan Cinta yang Labil

Begitulah potret generasi cinta yang mudah galau selalu bisa berwacana dengan berteriak paling keras ketika kondisinya berubah jadi sulit atau tidak sesuai dengan keinginannya, orangnya hanya bisa kritik sana dan kritik sini namun untuk tindakan nyatanya nol sama sekali.

Jadi jangan mudah galau dalam cinta karena nanti kita akan menjadi pribadi yang sibuk memikirkan diri sendiri, sibuk mengamankan posisinya, sibuk selalu mengeluh dan sibuk mencari enaknya sendiri tanpa berusaha keras untuk meraihnya.

Apalagi orang yang mudah galau sangat pintar sekali berdebat dan membangun suatu argumentasi tetapi nyalinya langsung menciut kalau ditantang mengambil keputusan untuk menentukan arah hubungan cintanya ke depan, tak heran hubungan cinta yang dijalani dan dimiliki olehnya selalu saja merasakan dampaknya seperti munculnya keegoisan dalam hubungan cintanya.

Namun sayangnya dirinya tidak pernah mau belajar selalu menyalahkan kekasihnya dan tidak mau belajar untuk menerima kekurangan kekasihnya, bisa ditebak nasib hubungan cintanya selalu saja putus nyambung, putus ditengah jalan, terburu-buru cari pacar baru atau bolak balik berpacaran tetapi tidak pernah menemukan orang yang tepat.

Baca juga:  Enam Alasan Cewek yang Belum Siap Diajak Menikah

Cinta mengajarkan kita untuk menjadi sosok yang berani mengambil keputusan, berpikir terbuka, disiplin, gigih, memiliki tekad yang kuat dan siap belajar membangun hubungan cintanya. istilahnya kita tidak hanya berani menuntut kepada kekasih kita tetapi kita juga siap untuk dituntut oleh kekasih kita terutama dalam menentukan arah hubungannya seperti apa, apakah serius berpacaran berlama-lama atau serius menikah, baca juga obat galau ketika putus cinta.

Kesimpulan jangan mudah galau dalam cinta:

Kalau niat dan tujuan awalnya selalu saja galau akan bermetamorfosis menjadi generasi cinta yang suka berwacana seperti mudah sekali mengeluh, suka menyalahkan, suka sekali menuntut dan mudah sekali menyerah. Kita akan menjadi sosok bermental labil hanya mampu berwacana yang suka sekali ribut dan cuma bisa heboh di sosial media, namun tidak berani mengambil sikap yang tegas.

Terima kasih sobat sudah berkunjung dan memberikan waktu luangmu untuk sejenak membaca jangan mudah galau dalam cinta, semoga bermanfaat dan menjadi kebaikan untuk kita semua. Sobat ada tanggapan lain?




ARTIKEL LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gravityscan Badge