Cinta Itu Juga Butuh Logika Bukan Hanya Perasaan Saja

Cinta Itu Juga Butuh Logika Bukan Hanya Perasaan Saja
Ilustrasi Cinta Itu Juga Butuh Logika Bukan Hanya Perasaan Saja (Sumber: pixabay.com)

Mengapa cinta itu juga butuh logika bukan hanya perasaan saja? Untuk menghindari dari permasalahan hubungan cinta yang tidak sehat akibat perasaan membabi buta. Logika dalam hubungan cinta untuk membantu kamu memilah-milah mana pikiran yang benar dan salah dalam menghadapi permasalahan cinta.

Seperti yang kamu ketahui, hampir rata-rata pasangan yang menjalani hubungan cinta cenderung menggunakan perasaannya daripada logika dalam menghadapi masalah cinta. Tak jarang, mereka justru tenggelam dengan masalah yang mereka ciptakan sendiri. Dampaknya mereka tidak menyadari kepedulian pasangan dalam membantu ataupun mendukungnya.

Cinta itu juga butuh logika bukan hanya perasaan saja untuk mencegah kamu tidak berpikir konyol atau keegoisan berpikir, seperti berantem atau marahan gara-gara masalah sepele. Logika dan perasaan akan membuatmu lebih bijak dan tenang dalam berpikir ketika menghadapi permasalahan cinta

Sebagai contohnya, pasangan ketahuan selingkuh bolak-balik dan ia selalu memaafkan kelakuan pasangannya. Walaupun, ia sering sakit hati akibat melihat kelakuan pasangannya. Alasan dirinya tidak mau putus dari pasangannya karena ia sangat mencintainya dan tidak bisa hidup tanpanya.

Ya, contoh tersebut adalah salah satu kasus cinta yang sering terjadi, hubungan cinta tanpa didasari logika hanya mengandalkan perasaan semata. Alhasil pola pikir seperti itu (sangat mencintainya, tidak bisa hidup tanpa dirinya, atau punya harapan pasti ia akan berubah) hanya menghasilkan hubungan cinta yang tidak sehat ke depannya.

Baca juga  Tujuh Tanda Ini Kamu harus Segera Move On dari Mantan

Jika seseorang dalam menjalani hubungan cinta tidak mau menggunakan logika dan berpikir kritisnya, maka ia akan melakukan tindakan di luar akal sehat (bersikap tidak dewasa atau kekanak-kanakan). Tak jarang, ia akan selalu berpikir tidak matang, terburu-buru, dan tidak berhati-hati saat memutuskan sesuatu.

Itulah alasan cinta itu juga butuh logika bukan hanya perasaan saja, apabila logikamu mengatakan hubunganmu saat ini tidak baik (tidak sehat). Maka, sikapmu akan mengambil tindakan nyata untuk mengakhirinya karena dirimu secara mental dalam keadaan berbahaya.

Kalau kamu yang menggunakan logika dan perasaan dalam menjalani hubungan cinta, maka kamu akan mengetahui bagaimana hal-hal baik dan buruk yang terjadi di sekitarmu. Bahkan, kamu mampu menganalisis adanya permasalahan dari awal untuk mencari apa penyebabnya dan segera memperbaikinya.

Lain ceritanya, apabila kamu mengutamakan perasaan. Sikapmu akan bertele-tele dalam memutuskannya akibat campur aduknya perasaan cinta, khawatir, hingga takut. Dampaknya kamu semakin lama untuk memutuskan masalah itu. Semakin tenggelam dengan masalah yang kamu ciptakan sendiri, alhasil kamu semakin menjalani hubungan cinta yang tidak sehat ke depannya.

Baca juga  Gaya Pacaran Kids Zaman Now Biar Gak Dibilang Norak

Kalau kamu hanya mengandalkan perasaan tanpa logika dalam menjalani hubungan cinta, maka kamu tidak akan menyadari ketololan-ketololan pikiran yang timbul dalam menghadapi permasalahan cinta. Dengan kata lain, kamu tidak bisa diajak berdiskusi (olah pikiran) atau berpikir kritis karena kamu tidak tahu masalah apa yang ditimbulkan dari hubungan tidak sehat itu.

Oleh karena itu, cinta itu juga butuh logika bukan hanya perasaan saja untuk mampu melihat, memahami, dan menganalisis masalah cinta yang timbul dari awal. Apabila kamu gagal melihat, memahami, dan menganalisis masalah cinta. Maka, bersiaplah menderita atau menyesal akibat masalah cinta yang sebenarnya kamu ciptakan sendiri.

Itulah alasan kamu tidak bisa dinasihati ketika perasaan lebih utama daripada logika, terutama saat ada sahabat atau keluargamu yang mengetahui pasanganmu itu sebenarnya tidak baik untukmu. Nasihat tersebut hanya masuk ke telinga kananmu dan keluar dari telinga kirimu. Tak jarang, hubungan yang dijalani bisa bahagia ataupun berantem hanya karena masalah sepele.

Baca juga  Istilah Jomblo Tidak Mengenal Batasan Usia bagi Siapa Saja

Kesimpulan cinta itu juga butuh logika bukan hanya perasaan saja

Memang jatuh cinta mirip orang mabuk, sehingga membuatmu sulit berpikir logis dan sulit untuk menerima nasihat orang lain. Namun, apabila kamu menggunakan perasaan dan logika secara bersamaan dalam menjalani hubungan cinta. Maka, kamu tidak akan berpikir konyol dalam menghadapi permasalahan cinta. Misalnya, berantem atau marahan gara-gara masalah sepele.

Logika dan perasaan akan membuatmu menyadari apabila telah terjadi miskomunikasi dalam menjalani hubungan cinta. Tak jarang, kamu lebih bijak dan tenang dalam berpikir ketika menghadapi permasalahan cinta. Dengan kata lain, kamu tidak lupa diri ataupun menggila tidak mengutamakan keegoisan berpikir atau emosi sesaat (kamu tidak kekanak-kanakan atau bersikap dewasa).

Terima kasih sudah berkunjung dan memberikan waktu luangmu untuk sejenak membaca cinta itu juga butuh logika bukan hanya perasaan saja. Bagikan artikel ini kepada teman-temanmu, pacarmu, atau keluargamu. Jika kamu punya pendapat lain tentang cinta tidak hanya membutuhkan perasaan, tetapi juga logika? Silakan berinteraksi dengan memberikan komentarnya di bawah.