Apa Artinya Cinta

Korban rayuan gombal di media sosial

Dari Kisahcintasejati.com, tempat asyik belajar keromantisan cinta untuk kamu dan si dia.

Korban rayuan gombal di media sosial
Ilustrasi acak tentang Korban rayuan gombal di media sosial (sumber: Pixabay.com)

Korban rayuan gombal di media sosial memang kehadiran teknologi informasi, internet dan jejaring sosial yang semakin maju memiliki potensi untuk membantu dan mengubah cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi dan bertransaksi bisnis dengan orang lain bisa lebih cepat, mudah dan efisien meskipun berada di tempat yang berbeda.

Tetapi kehadirannya juga berpotensi memfasilitasi orang-orang tertentu yang tidak bertanggungjawab dengan sengaja memanfaatkan, membangun citra tertentu atau memiliki niat jahat di belakangnya seperti penipuan, menguras harta dengan kedok menikahi, penculikan, pembunuhan dan pemerkosaan.

Era jejaring sosial telah menciptakan perubahan besar terhadap pemahaman tentang identitas, seseorang yang sejak awal memiliki niat jahat akan mengembangkan hubungan sosial yang intens dan permainan identitas mulai dari identitas palsu sampai identitas ganda.

Berbeda jauh dengan identitas sosial di dunia nyata sehingga keberadaan dan kehadirannya bisa melahirkan komunikasi dan interaksi sosial yang anonim untuk memungkinkan seseorang melakukan multi aplikasi peran dan citra diri untuk menyembunyikan niat jahatnya.

Rata-rata korbannya adalah cewek remaja lebih mudah untuk diperdaya dan masih belum memahami bahwa di dunia maya khususnya jejaring sosial, identitas dapat disamarkan dan citra diri dapat dipalsukan sesuai dengan gambaran si korban ketika diajak berinteraksi dan berkomunikasi dengan pelaku.

Baca juga:  Jawaban Pacarmu Sekarang Belum Tentu Jodohmu

Bermula berkenalan di facebook kemudian janjian untuk melakukan kopi darat, alih-alih untuk menjalin hubungan cinta yang mengasyikkan dan menyenangkan ternyata ujung-ujungnya berakhir tragis, pelaku bisa mengembangkan identitas ganda untuk membangun citra yang berbeda dengan dunia nyata supaya korban bisa diperdaya.

Tujuannya untuk menipu si korban agar mempercayai citra palsu yang dikembangkan oleh pelaku supaya korban bisa diperdaya, contohnya pelaku berusaha membangun citra sebagai sosok yang hangat, penuh kasih sayang, pengertian dan bijaksana supaya korban menangkap citra palsunya tetapi sebenarnya dalam dunia nyata pelaku adalah sosok yang jahat, tidak peduli, egois, suka menipu, suka memukul, suka selingkuh dan lain-lain.

Pelaku sengaja memilih cewek remaja yang kesehariannya haus akan sentuhan kasih sayang dan rasa ingin tahu yang sangat besar ditambah rayuan gombal yang datangnya bertubi-tubi, tak heran cewek remaja berusia pubertas masih mencari jati diri akan cepat termakan citra palsu dari pelaku sehingga berpotensi terbujuk dan diperdaya oleh pelaku yang dikenalnya lewat jejaring sosial.

Pelaku lebih memilih berinteraksi lewat jejaring sosial pertama kalinya untuk membujuk dan memperdaya si korban, bila berinteraksi melalui dunia nyata atau face to face di mana akan banyak sekali petunjuk-petunjuk untuk melihat dan mengindikasikan identitas seseorang tetapi berbeda sekali berinteraksi lewat online yang terjadi adalah citra diri dapat dibentuk sesuai gambaran si korban dengan permainan citra si pelaku.

Baca juga:  Menafsir Arti Mimpi Diputusin Pacar yang Masih Misteri

Kehadiran teknologi informasi, internet dan jejaring sosial adalah sesuatu yang tidak akan dapat dicegah dan langkah yang tepat untuk mengantisipasinya bukan dengan cara menarik diri atau menutup akses buat remaja dari teknologi informasi, internet dan jejaring sosial karena remaja adalah bagian dari kelompok yang tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh ini.

Remaja dapat memanfaatkan secara optimal dan positif atas kehadiran teknologi informasi, internet dan jejaring sosial diperlukan peran serta orang tua ataupun keluarganya terutama kakak-kakaknya untuk ikut mengawasi ketika remaja ini masuk ke dalam dunia jejaring sosial.

Tanamkan pula kemampuan untuk memanfaatkan dan memperdayagunakan informasi yang terdapat dalam teknologi ini diarahkan untuk mendukung hobinya ataupun kepentingan pendidikan, misalnya tugas sekolah. Pemanfaatan dan pemerdayagunaan kemampuan teknologi ini bila diarahkan ke arah positif dapat menjadi modal di masa depan agar remaja tidak mudah menjadi korban.

Baca juga:  Lima Tanda Kamu Menjalani Hubungan Tidak Sehat

Remaja akan lebih menyukai informasi-informasi yang menyangkut meningkatkan kualitas dirinya ataupun hobinya sehingga memiliki kemampuan cognitive abilities seperti berpikir kritis, kemampuan personal abilities seperti berpikir positif lalu terakhir kemampuan interpersonal abilities seperti bersikap asertif dan berempati, baca juga mencari pacar via online hati-hati jebakannya.

Kesimpulannya: korban rayuan gombal di media sosial rata-rata korbannya adalah cewek remaja berusia pubertas yang kesehariannya haus akan sentuhan kasih sayang lebih dipilih dan disukai oleh pelaku sehingga mudah untuk terbujuk dan diperdaya lewat rayuan gombal yang datangnya bertubi-tubi.

Bila berkenalan lewat online kemudian janjian untuk kopi darat, jangan pergi sendiri ataupun berdua saja tetapi ajaklah beberapa orang bisa dengan kakakmu atau sahabat terdekatmu ke tempat yang ramai, jangan pernah mau diajak ke luar kota ataupun ke tempat yang sepi.

Terima kasih sobat sudah berkunjung dan memberikan waktu luangmu untuk sejenak membaca korban rayuan gombal di media sosial, jangan lupa membookmark atau bagikan artikel ini ke teman-temanmu, semoga bermanfaat dan menjadi kebaikan untuk kita semua. Sobat ada tanggapan lain?




ARTIKEL LAINNYA

5 balasan untuk artikel ini

  1. Paling gk suka kalau bujuk rayu lewat media sosial apalagi klo blm ketemu langsung. Foto nya bs aja gk sama dngan asli nya. Apalagi sifatnya. Mending yg nyata2 aja. Misal kenalanny by media sosial trus ketemuan baik2 nah banyak jg yg kejadian akhirnya maried

  2. Karena anak pubertas rasa ingin tahunya tinggi, mereka susah membedakan mana yang baik dan tidak. Jadi mereka mudah terperdaya dengan kata-kata manis lelaki.

  3. Karena anak usia pubertas masih labil, mereka masih mencari jati diri jadi mereka gampang tertipu oleh rayuan dan janji2 palsu cowok di media sosial yang blm mereka kenal.

  4. memang remaja pubertas lebih mudah dirayu, karna mrka masih labil dan ga mikir akibatnya
    Lebih hati” saja dg orang yg ga dikenal apalagi lewat jejaring sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gravityscan Badge